Sosok Pantang Menyerah dari UM yang Go International

Kemarin Senin, 19 Maret 2018, Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI) datang ke Universitas Negeri Malang (UM) untuk berbagi informasi melalui Sosialisasi Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) wilayah Jawa Timur kepada mahasiswa di UM. Ternyata, salah satu pembicara dari PCMI adalah seorang alumnus UM. Ia adalah M. Mukhlis Saktiyawan yang dulunya mengambil Program Studi S1 Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA).

Pria yang akrab dengan sapaan Sakti ini merupakan sosok yang berprestasi baik di bidang akademik maupun non-akademik. Sosoknya sempat menjadi Ketua Umum OSIS MAN Tulungagung 1, Ketua Umum HMJ Kimia FMIPA UM, dan juga Presiden BEM FMIPA UM. Ketika masih menjadi mahasiswa aktif di UM, ia mendapat berbagai macam penghargaan, seperti Mahasiswa Berprestasi (MAWAPRES) UM, juara kompetisi essay nasional, juara kompetisi penelitian nasional, dan juga peraih dana DIKTI untuk program PKM-Penelitian. Profilnya bahkan pernah dimuat oleh Jawapos Radar Tulungagung dengan dua judul yang berbeda, "Empat tahun selesaikan 17 Karya Tulis" dan "Jangan Hanya Kejar IPK dan Ijazah".

Ketika berbicara tentang bidang non-akademik, Sakti juga tak mau kalah. Ia merupakan founder Pemuda Revolusi. Ia juga merupakan pendiri Forum Komunikasi Aktivis Pelajar Islam (FKAPI) OSIS SMA/SMK/MA se-Kabupaten Tulungagung. Salah satu gagasan luar biasa darinya adalah Program Pinjam Buku dengan Hanya Membayar Sampah yang mampu memberi perubahan dalam pola hidup masyarakat.

Satu hal yang patut dibanggakan oleh Sakti saat ini adalah dirinya yang menjadi bagian dari PCMI Jawa Timur. Ia pernah diutus untuk mengikuti program pertukaran ke Singapura di bawah program Singapore-Indonesia Youth Leadership Exchange Program (SIYLEP) dengan beberapa kawan dari PPAN dan merasa sangat senang karena berangkat ke luar negeri sebagai duta yang membawa harum nama bangsa. "Lebih memberikan tantangan tersendiri bagi saya, terutama ke Singapura yang terkenal sebagai negara maju di ASEAN. Saya pikir akan banyak ilmu yang saya dapat dari delegasi Singapura serta dari tempat yang saya kunjungi disana," ujar Sakti.

Akan tetapi, sebelum keberhasilannya pergi ke Singapura, Sakti pernah gugur dalam seleksi program ini. Meskipun sempat merasa down, namun karena sosoknya yang memiliki rasa ingin tahu yang besar, ia mencoba bangkit kembali. Ketika mengikuti seleksi di tahun kedua, dengan adanya dukungan dari beberapa pihak, ia mencoba lagi dengan belajar memperbaiki segala kekurangan dari seleksinya di tahun pertama.

Ketika ditanya apa yang menjadi alasan PCMI menerima Sakti di tahun kedua, ia menjawab, "sepertinya aspek inisiatif dan bertanggungjawab menjadi dua alasan yang menjadikan saya dipilih oleh kakak panitia. Setiap kali ada yang bisa saya inovasikan, saya mencoba menyampaikan ide dan teknis pengerjaannya. Dan tidak lupa untuk selalu bertanggungjawab atas semua pekerjaan dan tantangan yang telah diterima."

Sakti yang tidak mudah menyerah dan memiliki semangat juang yang tinggi ini juga meninggalkan pesan semangat untuk sobat OIA khususnya dan teman-teman UM umumnya. "Pesan saya sih simple. Dalam proses belajar, ada kalanya kita harus menaikkan level kita. Salah satu cara menaikkannya menurut saya dengan mengikuti PPAN. Namun, dalam proses pembelajaran ini ada kalanya kita kalah, adakalanya kita menang. Yang terpenting jangan lupa untuk bangkit saat kalah. jangan lupa untuk selalu bersyukur saat menang. Jangan pernah puas dengan apa yang kita miliki saat ini karena jika kita sudah merasa puas, maka kita telah berhenti belajar saat itu juga," tutupnya.

Bagaimana sobat OIA? Apa kalian semakin bersemangat mengepakkan sayap untuk mengejar prestasi? Jika kalian tertarik untuk mengenal Sakti lebih dekat, kalian bisa menyapanya di akun instagramnya, @msaktiyawan. Atau ingin menggali lebih dalam profil Sakti? Silakan kunjungi: http://kemahasiswaan.um.ac.id/profil-mahasiswa-um-di-tingkat-international/ 

 

Ditulis oleh: Faizah Zakiyah