Robby Wijaya cs, pencetus perangkap hama yang berhasil diproduksi massal.

Selasa, 22 Mei 2018 - Bermula saat melakulan studi lapangan di Probolinggo daerah dengan penghasil bawang merah terbesar di Jawa Timur, lima mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) berhasil menciptakan Portable Moth Atractor Technology (P-MOAT). Portable Moth Atractor Technology (P-MOAT) merupakan perangkap hama ngengat pada tanaman. Perangkap hama P-MOAT ini juga berhasil meraih medali emas tingkat Internasional di Negara Malaysia pada tahun 2017.

Tim Portable Moth Atractor Technology (P-MOAT) diketuai oleh Robby Wijaya. Ia menjelaskan bahwa P-MOAT bukanlah perangkap hama ngengat satu-satunya, tetapi berdasarkan kekurangan perangkap yang ada di pasaran sebelumnya ia menciptakan perangkap dengan kelebihan yang tidak ada di perangkap lainnya, memiliki tingkat keamanan yang lebih baik, dan menggunakan sistem Lampu Tabung Lem (latale). Sehingga menjadikan produk ini memiliki tingkat efektifitas 40% berdasarkan uji coba dari para petani, dan saat ini P-MOAT ini sedang memasuki tahap produksi massal. 

“P-MOAT sengaja diciptakan sebagai perangkap hama ngengat pada bawang merah, tetapi tidak kemungkinan bisa menjadi perangkap pada hama ngengat di tanaman lainnya. Sebelum mengikuti perlombaan di IDRIS Malaysia, P-MOAT sudah pernah menjadi Juara 1 tingkat Jawa-Bali untuk lomba cipta elektronika di Universitas Negeri Jember (UNEJ), Juara 2 SCIENTIST in Action tingkat Nasional di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), dan kemudian meraih medali emas di Malysia,” ungkap mahasiswa yang dibimbing oleh Widiyanti. 

Saat ini Portable Moth Atractor Technology (P-MOAT) diperkenalkan melalui sosial media:

Facebook: Portable Moat 
Ig: @p_moat
Website: www.pmoat.com

(Aprillia C Pramita)